QANA'AH ATAS ANUGERAH ALLAH

Oleh : Fauzan Abu Fathiyyah 

Seseorang yang telah banyak Allah karuniai berbagai bentuk kenikmatan sebagai bentuk kasih sayangNya  seringkali ia tak mampu melawan godaan syaitan yang selalu menunjukkan padanya kacamata negatif agar ia melihat segala apa yang di hadapan matanya adalah keburukan, kekurangan, kesengsaraan pesimisme dan berbagai hal negatif lainnya.

Supaya apa?
Agar ia lupa dan tidak melihat dari sisi baiknya sedikit pun. Maka jadi lah ia hamba yang kufur terhadap nikmat Allah. Waliyadzubillah

Sebagai makhluk yang sempurna dari sisi penciptaan, manusia juga memiliki kelemahan dari aspek kejiwaan yang jika ia tak mampu bijak dalam menyikapi tuntutan jiwa dan nuraninya maka selamanya ia akan selalu bermasalah dan sulit untuk menikmati dan mensyukuri nikmat yang sungguh tak akan pernah sanggup ia hitung.

Ketika melihat diri kita dari sisi apa yang tidak kita miliki, lalu kita akan melihat seseorang dari hamba Allah yang menurut kita memiliki semuanya dari harta, jabatan, istri dan anak yang dikaruinai Allah padanya. Kadangkala kita luput dari membayangkan dan mensyukuri kenyamanan hati, ketenangan jiwa dan kebahagiaan bathin yang bisa saja tidak dimiliki hamba Allah tersebut. Bisa jadi ia memiliki banyak permaslahan yang kita tidak ketahui dan takkan pernah tau.

Dari harta yang melimpah, bisa jadi bersumber dari yang syubhat hingga haram yang menjadi sebab sulitnya ia mendapatkan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan. Jabatan yang dimiliki bisa jadi menyebabkan ia mudah untuk mengambil hak-hak yang bukan miliknya, menyebabkan musuhnya semakin bertambah dan menjadi penyebab ancaman kesengsaraan di dunia (penjara) bahkan akhirat. Waliyadzu billah. 

Adapun kenikmatan dari sisi anugerah istri dan anak bisa jadi akan menambah beban fikiran ketika istri selalu mengabaikan kewajiban dan anak yang tumbuh jauh dari koridor syariat tersebab apa yang dimakan dan dipakai bersumber dari nafkah seorang kepala keluarga yang tidak halal. Waliyadzu billah. 

Tidak dapat dipungkiri dan menjadi sunnatullah bahwa semakin banyak seseorang dikarunia berbagai kenikmatan maka semakin banyak pula hisabnya di akhirat.

Oleh karenanya, hendaklah kita mensyukuri apa yang Allah telah anugerahkan pada diri kita. Karena bisa saja cita-cita yang belum tercapai, doa yang belum terkabulkan, jodoh yang tak kunjung didapat, anak yang belum dititipkan serta harta yang sulit dicari; merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita karena secara kemampuan untuk memikul tanggung jawab atas berbagai anugerah tersebut, Allah menilai kita belum sanggup untuk memikulnya.

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita seorang hamba yang pandai bersyukur.



Yogyakarta, 01 September 2019 

Komentar