Ustadz Junaidi: Tetaplah Menjadi Guru, Nak!



Pagi itu, cuaca alam terasa cukup sejuk kala terhirup. Seakan udara segar dari Kota Berastagi menular turun di beberapa wilayah dataran rendah sekitarnya. Termasuk di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah (RH), Medan Tahun 2009.

Aku berniat mendatangi kediaman wali kelasku. Ustadz Junaidi. Selain sebagai wali kelas, beliau juga merupakan Wakil Direktur Pondok. Bersama 2 orang rekan, kami beraksud untuk meminta izin 3 hari karena hendak mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi kedinasan.

Beliau sedang duduk fokus membuka lembar demi lembar Al-Quran sambil membacanya pelan. Sebenarnya, kami tidak ingin mengganggu. Tapi, mengingat pagi itu juga kami harus bergegas menuju Shalatul Akli (tempat makan). Dengan rasa tak enak hati, kami terpaksa mengusik waktu sang ustadz.

"Assalamualaikum Ustadz" ucap kami serentak.

"Waalaikumsalam. Fauzan, Yuhwil, Riza. Ada apa, nak? Silahkan duduk". Jawab sang ustadz dengan ramah. Namun tetap tegas dengan suara khasnya.

"Mohon maaf mengganggu waktunya, ustadz. Kami bermaksud meminta izin untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi kedinasan. Karena, alhamdulillah kami lolos seleksi administrasi". Ucapku mewakili dua sahabatku.

"Oh ya, mabruk mabruk. Pastikan waktu izin kalian nanti tidak bersamaan dengan kegiatan fathul kutub dan lainnya. Silahkan urus ke pengasuhan!". 

Kami sangat senang. Dengan wajah sumringah, kami berpamitan, mengucap salam, sembari mencium tangan sang ustadz. 

Tapi, tetiba sang ustadz berucap.

"Fauzan, tunggu. Kamu duduk. Yang lain silahkan kembali, lanjutkan aktivitas kalian".

"Nak, kamu mau jadi PNS?". Tanya sang ustadz. Dari nadanya, beliau seperti tidak percaya bahwa aku berniat ingin menjadi pegawai negeri. 

"Bukan ustadz, ana hanya ingin sekolah di perguruan tinggi kedinasan". Jawabku lugu.

"Ya sama saja. Kan ujung-ujungnya, kamu akan jadi PNS. Apa kamu takut tidak dapat pekerjaan setelah tamat pondok ini nanti?".

Aku tunduk terdiam. Bingung mau jawab apa. Sejenak, aku mulai memahami maksud pertanyaan sang ustadz. 

"Tidakkah kamu berkenan menjadi bagian dari kami mengajari adik-adikmu disini nanti, nak? Kamu tetap bisa melanjutkan sekolah, kok. Sama seperti ustadz-ustadzmu yang lain".

"Oh ya, sebentar! Kamu kan yang paling berambisi untuk bisa melanjutkan studi ke timur tengah, bukan? Disinilah tempatmu, nak".

Maasyaa Allah. Hatiku terenyuh. Sebaik itukah pribadiku menurut pandangan sang ustadz?. Padahal, aku bukanlah yang terbaik di antara teman-temanku yang dari dari sisi akademik.

Aku juga bukan yang paling berdisiplin di antara mereka. Aku pun pernah mendapat hukuman kepala plontos, saat izin ke luar kampus, terlambat kembali ke pondok tanpa alasan yang jelas. Sang ustadz tau persis itu.

Dan pantaskah diri ini menjadi seorang ustadz di pondok pesantren yang penuh dengan sosok-sosok tangguh, penuh keikhlasan, beretos kerja tinggi, dan penuh integritas ini?.

Lidahku seakan membeku. Tak mampu menjawab pertanyaan sang ustadz yang bagiku sangat mengharukan dan membuatku tersanjung. Entah apalah hal spesial dari diriku sehingga mendapatkan tawaran terhormat dari seorang guru nan mulia. 

"Fauzan, pergilah, nak! Gapailah cita-citamu. Ustadz menghargai itu. Tapi, ingat, nak! Menjadi apapun kamu nanti, tetaplah menjadi guru!".

•••

Itu lah satu dari sekian banyak kenanganku bersama sang ustadz, KH. Drs. Junaidi, MM rahimahullah. Sosok yang sangat bersahaja, kompeten di bidangnya, berintegritas, dan totalitas setiap melaksanakan tugas sebagai seorang guru, pengasuh, orang tua, dan pembina di Pondok RH.

Pesan beliau "Tetaplah menjadi guru", tak penah lekang oleh waktu yang selalu terngiang di fikiranku. Meskipun, aku telah meninggalkan pondok sejak 13 tahun yang lalu. Dan meskipun, hari ini tepat tanggal  7 September 2023, sang ustadz telah kembali ke rahmatullah. 

Semoga Allah Ta'ala menerima segala amal salehnya dari semua ilmu yang telah ia ajarkan kepada murid-muridnya. Dari keikhlasan perjuangannya bersama para asatidz kami yang mulia membangun sebuah Pondok Pesantren baru tapi bermutu, Mawaridussalam. Semoga tercatat sebagai amalan jariyah yang tak pernah putus. 

Sehingga dengannya, Allah mengampuni dosa-dosanya, melipatgandakan pahalanya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di syugra-Nya. Allahumma Aamiin

Komentar