Kondisi Politik Pemerintahan Hari Ini


 

created by fauzan hidayat (playground.ai)

"Bagaimana pendapatmu tentang kondisi negara dari aspek politik saat ini?"


Ini adalah pertanyaan yang kuprediksi akan muncul ketika wawancara baik untuk memperoleh posisi pada sektor publik maupun untuk mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

Ya, terlihat tricky tapi itulah adanya. Bayangkan, bagaimana jika anda bekerja di pemerintahan kemudian mendapati pertanyaan wawancara resmi dari seorang asesor.

Memang, cukup mudah menjawabnya dengan nurani. Tapi bagaimana jika anda harus mempertimbangkan banyak hal untuk menjawabnya?

Misal, ada kekhawatiran jika anda akan dinilai tidak loyal jika menyampaikan pendapat apa adanya. Kadang, terpikir juga bahwa kebebasan berpendapat kan sah-sah saja ya, siapapun anda. Tapi, bila kita bisa memprediksi akibatnya, haruskah jawaban itu muncul dari nurani semata tanpa pertimbangan lain?

Tentu, tujuan Anda pasti agar lulus. Dan anda akan berupaya semanis mungkin menjawab pertanyaan-pertanyaan jebakan seperti itu. Tapi jika saya menjadi anda, saya akan menjawab demikian:

"Saya menerjemahkan pertanyaan ini to the point kepada dinamika politik pra dan pasca Pilpres 2024. Saya pengguna aktif media sosial, khususnya X (twitter). Karenanya, bukti-bukti terlihat jelas apakah itu fenomena sebelum dan sesudah pesta demokrasi ini. Singkatnya, saya berada pada posisi netral terhadap sikap pemerintah pada case tertentu. Tapi, saya counter pada case yang lain".

"Konkritnya, perihal dinamika MK. Saya tegas ikut pada barisan yang menentang perubahan kebijakan ketentuan perundang-undangan yang meloloskan salah satu cawapres untuk mencalonkan diri. Persoalan etika benar-benar tercederai pada case tersebut. Terlebih, pimpinan tertingginya kemudian dinonaktifkan karena terbukti melanggar kode etik".

"Begitu pula terkait dengan indikasi kecurangan dalam penghitungan suara yang diperparah dengan berbagai bukti digital yang menunjukkan skenario curang untuk memenangkan pasangan calon tertentu dimana seorang pimpinan lembaga survei mematok angka persentasi yang akan di raih oleh paslon tertentu beberapa hari sebelum hari H pencoblosan. Sialnya, angka yang ia sebutkan tersebut persis seperti yang ditampilkan pada situs resmi KPU pasca pencoblosan".

"Parahnya lagi, rezim yang berkuasa -yang semestinya berada pada posisi netral- seperti mengamini dinamika yang terjadi. Beberapa statement dari Kepala Negara cukup memperburuk keadaan. Seperti pernyataan bahwa Kepala Negara boleh memihak. Kemudian diperburuk oleh sikap pimpinan kabinet yang secara terang-terangan menjadi bagian dari tim pemenangan paslon tertentu tanpa meletakkan terlebih dahulu jabatan yang sedang diemban (cuti)."

"Ini pandangan saya berdasarkan fakta yang saya lihat. Tapi, saya berada pada posisi netral tatkala berbicara tentang siapa pemimpin terbaik diantara 3 calon presiden yang ada. Saya tidak condong pada paslon tertentu, meskipun saya telah menggunakan hak pilih saya. Karena saya meyakini bahwa setiap pemimpin itu merupakan gambaran dari rakyat yang ia pimpin. Artinya, seperti apapun kualitas pemimpin yang nantinya secara Undang-Undang sah memimpin negeri ini akan berbanding lurus dengan kualitas masyarakat Indonesia. Karena sejatinya, rakyat yang langsung memilih pemimpin terbaik menurutnya".

Jadi, bagi saya, apapun dan siapapun itu -yang jelas-jelas melanggar ketentuan hukum yang ada- harus dilawan tentunya dengan cara-cara konstitusional. Karena, inilah ruh demokrasi. Memberi ruang dan hak kepada rakyat untuk menyampaikan aspirasi, mengawasi dan mengkritisi hal-hal yang bertentangan dengan yang seharusnya. Karena, apabila kita tidak siap dengan bijak menyikapi adanya check & balance dalam menyikapi dinamika politik dan pemerintahan yang merupakan barang publik abstrak yang harus dipertanggungjawabkan, maka sejatinya kita telah mencederai demokrasi itu sendiri dalam praktik berbangsa dan bernegara.

Demikianlah kira-kira jawaban objektif yang tidak pula menafikan posisi diri yang berada dan bekerja di lingkungan entitas organisasi sektor publik yang siap dikritisi untuk kemajuan bangsa dan negara di masa depan.

Mudah-mudahan, jawaban ini memberikan pesan bahwa argumen yang dibangun telah berpandangan fakta dan data. Bukan asumsi tanpa evidence. Tapi berdasarkan analisis yang tajam tanpa tendensi apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar