SEGEROMBOLAN TIKUS DIPIMPIN OLEH SEEKOR SINGA?

"Segerombolan Tikus yang bermimpi dipimpin oleh Singa". Tidak ada yang mustahil jika Allah berkehendak. Kalimat di atas bisa saja terjadi. Tapi sudah menjadi sunnatullah bahwa kalimat tersebut sebenarnya berbunyi "Tidak mungkin Segerombolan Tikus dipimpin oleh seekor Singa".

Kalimat itu sangat tepat jika dikaitkan dengan fenomena ummat yang sebagian dari mereka saat ini sibuk untuk menyuarakan keadilan dan menuntut kesejahteraan kepada penguasa.

Sekali lagi saya ingatkan bahwa Rasulullah sangat tegas mengatakan tentang tiga generasi terbaik (sahabat, tabiin dan tabiut tabiin-pen). Mari kita kaji sejarah untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana para generasi terbaik tersebut menyikapi pemimpin yang dianggap tidak berbuat adil?

Sampai-sampai seorang Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu diseret ke dalam jeruji besi oleh seorang pemimpin yang zhalim  karena tidak mau mengatakan bahwa "Al-quran adalah Makhluk". Wal iyadzu billah

Imam Ahmad tetap konsekuen dengan keyakinan bahwa Alquran adalah kalamullah karena itu lah pemahaman yang benar. Maka, beliau pun di penjara hingga disiksa oleh seorang pemimpin yang juga seorang muslim namun zalim.

Maasyaa Allah,  sekelas Imam Ahmad salah seorang dari 4 Imam Mazhab yang kita tahu betapa ilmunya sangat luas tentang agama ini dan pengaruhnya begitu besar dalam perkembangan keilmuan Islam dan populer sedunia pada zamannya? Bukan kah pengikutnya (dari murid-muridnya ataupun masyarakat yang mencintainya - pen) pada saat itu jumlah mereka banyak?

Adakah mereka memberontak kepada pemimpin? Atau adakah Al Imam Ahmad menginstruksikan agar mereka menuntut keadilan kepada Penguasa yang saat itu berbuat zalim?

Jika mereka mau, bisa saja mereka memerangi sang penguasa karena seorang ulama yang mulia telah dizhalimi olehnya. Lalu, apa yang menghalangi mereka untuk tidak melakukan aksi protes dan melakukan perlawanan/pemberontakan kepada si penguasa (pada hal mereka sanggup melakukannya-pen)?

Ternyata, hadits ini yang mereka jadikan pegangan :
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa dengan suatu urusan maka jangan dengan terang-terangan. Akan tetapi pegang tangannya, berduaanlah. Apabila nasehatnya diterima maka itulah yang diharapkan, bila tidak diterima maka anda telah menyampaikan haknya” (HR Ahmad)

Maasyaa Allah. Mungkin timbul dibenak kita, bukankah juga ada hadits yang memerintahkan kita agar beramar ma'ruf dan nahi munkar, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :

Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman”(HR Muslim).

Baik, bila kita perhatikan hadits terakhir tentang beramar ma'ruf dan nahi munkar ini maka kita dapati bahwa hadits ini bersifat umum. Sementara hadis terkait larangan memberontak (khuruj) terhadap penguasa dzolim bersifat khusus. Kaidah ushul fikihnya, dalil khusus lebih didahulukan daripada dalil umum.

Seperti yang dikatakan oleh Imam Syaukani –rahimahullah– dalam Nailul Author :

“Orang-orang yang mengatakan wajib memberontak, memerangi dengan pedang dan melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang dzolim, mereka berdalil dengan keumuman dalil Al Quran dan Hadis yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar. Tidak diragukan lagi bahwa hadis-hadis yang disebutkan oleh penulis di bab ini (pent. Hadis-hadis tentang kewajiban taat pada penguasa dzolim) lebih khusus daripada dalil umum tersebut (pent. Hadis tentang perintah amar ma’ruf nahi munkar). Dan makna hadis-hadis tersebut mutawatir, sebagaimana diketahui oleh mereka yang memiliki bagian dalam ilmu hadis” (Nailul Author, 7/208).

Bismillah. Mari sejenak kita renungi hadits dibawah ini dengan membuka hati dan fikiran tentang bagaimana seharusnya menyikapi pemimpin yang meskipun zalim kepada kita dan bahkan kepada ummat islam pada umumnya. 

Rasulullah ﷺ bersabda : 
Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan kalian membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.

Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?”

Kemudian Nabi ﷺ menjawab,
Tidak…! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” (HR. Muslim No.3447).

Kemudian dalam hadis dari sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu’anhu (sahabat yang dijadikan Rasulullah sebgai penyimpan rahasia -pen) disebutkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

Akan ada sepeninggalku nanti para penguasa yang mereka tidak berpegang dengan petunjukku dan tidak mengikuti sunnahku.

Apa yang kuperbuat bila aku mendapatinya?” Tanya sahabat Hudzaifah.

Rasulullah   menjawab 
Hendaknya kamu mendengar dan taat kepada penguasa tersebut, walaupun punggungmu dicambuk (menyengsarakan rakyat) dan hartamu dirampas olehnya (seperti korupsi), dengarlah perintahnya dan taatilah” (Hadis shahih, diriwayatkan Imam Muslim)
Maasyaa Allah, belum cukupkah nash dari hadits-hadits di atas menuntun kita tentang bagaimana seharusnya menyikapi pemimpin?
Jika belum, silahkan renungi lagi hadits lain yang membahas permasalahan yang sama :
Dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami,
Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .
Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?
Nabi menjawab,
Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” (HR. Bukhori).
Agar lebih meyakinkan lagi mari kita hayati dan renungi juga hadits ini :
dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhuma, dari Nabi ﷺ beliau bersabda :
Barangsiapa yang melihat pada pemimpinnya sesuatu yang ia benci, maka hendaklah ia bersabar atas hal tersebut. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (persatuan kaum muslimin) satu jengkal lalu ia meninggal dunia, ia meninggal dunia seperti mati jahiliyah” (HR Bukhari : 7054, Muslim : 1849).
Maka untuk menyampaikan yang haq kepada pemimpin, cara yang layak adalah dengan menyampaikan secara lemah lembut. Manfaatkan lembaga negara yang telah dibentuk untuk menyampaikan aspirasi kita sebgai rakyat (Baca: DPR) walau mungkin rasa pesimis (karena krisis kepercayaan -pent) terhadap sampai atau tidaknya pesan kita kepada penguasa tersebut tinggi.
Karena, seberapa mampunya kita memaksa untuk mendemo mereka (para penguasa) tidak juga akan menjamin perubahan seperti apa yang kira harapkan, belum lagi ada batasan-batasan Allah yang telah kira langgar dalam proses menyampaikan aspirasi tersebut. 
Kita merindukan sosok pemimpin  yang adil, amanah, taat pada Allah dan Rasulullah. Namun kita pun tidak mau berubah ke arah sebagaimana kita inginkan para penguasa ke arah kebaikan itu. Bukankah Sahabat Ali bin abi thalib radhiallahu anhu ketika ditanya kenapa dibawah kepemimpinannya terjadi banyak kekacauan di kalangan ummat tidak seperti masa Abu Bakar dan Umar, maka beliau menjawab : "maka jadilah kalian layaknya masyarakat Abu Bakar dan Umar".
Maksudnya, ketika kita menginginkan  dan merindukan seorang pemimpin yang baik, maka jadilah orang yang baik. Karena sekali lagi "Tidak mungkin segerombolan tikus dipimpin oleh seekor Singa" karena pemimpin adalah cerminan rakyatnya. 
Baik seorang pemimpin maka baik pulalah rakyatnya.
Lalu, mungkin muncul rasa penasaran dihati tentang orang-orang yang dianggap 'alim namun terkesan mengabaikan hadits-hadits di atas dan terus menerus melakukan perlawanan dan revolusi terhadap pemimpin. 
Pertanyaan, ustadz fulan kok begini? Kata ustadz fulan kan gak apa-apa? Dia lulusan timur tengah lho, anda lulusan apa kok berani menulis seperti ini bawa-bawa hadits lagi?
Jawab : Allah menyuruh ikut Nabi, bukan ikut ustadz fulan. 
Wallahua’lam bis showab.

Yogyakarta,  05 September 2019

Fauzan Hidayat 




Komentar

Posting Komentar