RENUNGAN : KAPAN TERAKHIR BELAJAR TAUHID?

🖊Fauzan bin Abdil Aziz

Tauhid merupakan perkara yang amat penting bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan di dunia terlebih di akhirat. Sangat jelas dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits bahwa tujuan diciptakannya Jin dan Manusia adalah semata-mata untuk beribadah hanya kepada Allah sebagaimana firman Allah,

_“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”_ (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Begitu juga tujuan dari diutusnya para Rasul adalah untuk mendakwahkan peribadatan hanyak kepada Allah yaitu dakwah tauhid. Allah berfirman,

_“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia berkata; Wahai kaumku, sembahlah Allah tiada bagi kalian sesembahan selain-Nya.”_ (QS. al-A’raaf: 59).

Tauhid atau biasa kita kenal dengan pengesaan Allah merupakan perkara besar yang menjadi pertimbangan dua jalan yang tidak ada jalan lain yang dituju di akhir hayat yaitu syurga atau neraka. Tidak mungkin dapat dipungkiri bahwa semua makhluk yang masuk syurga tersebab rahmat dan kasih sayang Allah, bukan karena amal ibadah yang mereka lakukan bahkan termasuk Rasululah Shallallahu Alai Wasallam pun menjadi penghuni syurga karena Rahmat Allah Ta’ala segaimana disebutkan dalam hadis Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

_“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah”_ (HR. Muslim no. 2817).

Akan tetapi, tentunya rahmat dan kasih sayang Allah itu hanya diperoleh bagi yang mentauhidkan Allah dan tidak akan diberikan kepada yang menyekutukanNya karena jelas Allah tidak mengampuni dosa syirik disamping ampunan Allah atas dosa-dosa selainnya yang dilakukan manusia bagi yang Allah kehendaki. Allah berfirman,

_“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisa’: 48)._

Oleh karenanya, sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa itu Tauhid dan apa itu Syirik secara rinci. Agar kita benar-benar dapat mengesakan Allah / mentauhidkan Allah sebagaimana layaknya Allah ditahidkan sesuai petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Begitu juga kita teramat butuh akan pengetahuan dan seluk beluk kesyirikan agar kita tidak terjerumus kedalamnya demi terhindarnya kita dari golongan orang-orang yang mutlak Allah tidak ampuni dosa syiriknya jika tidak bertaubat sebelum ajalnya tiba.

Sungguh miris, ketika kita menyadari bahwa terakhir kalinya kita mempelajari ilmu tauhid, sholat, puasa, dan disipilin ilmu syar’i lainnya adalah saat duduk di bangku sekolah dasar, setelah itu tamat. Bekal ilmu sekolah dasar itu lah yang kita jadikan pegangan dalam menjalankan perintah Allah hingga kita beranjak dewasa tanpa banyak mendalaminya dan mencukupkan diri sampai disitu saja.

Padahal untuk perkara ilmu diniawi kita kejar dengan menyeberangi lautan, mendaki gunung dan melewati lembah dengan waktu bertahun-tahun hingga mendapatkan gelar kesarjanaan tertinggi tanpa menyadari efek ilmu tersebut sangat terbatas yaitu kebermanfaatan yang dirasakan hanya di dunia. _Waliyadzu billah_

Belajar ilmu tauhid juga sangat tergantung dengan kepada siapa kita mengambil ilmu. Ketika kita keliru dalam menentukan guru untuk mengajarkan kita tentang ilmu syar’i maka tentu kita pun akan jauh dari jalan yang telah Allah tetapkan.

Betapa banyak saat ini orang-orang yang dianggap berilmu namun menyesilihi para salafussalih dalam tata cara mengambil ilmu kemudian mereka berfatwa dan memberikan penjelasan tentang agama yang secara tidak sadar menyesatkan ummat dari jalan yang benar dalam memahami agama.

Memohon kepada Allah agar diberikan hidayah dan taufiqNya kepada kita untuk mendapatkan sumber ilmu syar’i dari asatidz/guru yang benar-benar tsiqoh dalam bidang keilmuannya; merupakan perihal yang pokok dan yang pertama sekali yang harus kita lakukan agar mendapatkan ilmu yang benar-benar menjadi wasilah (perantara) yang memudahkan kita dalam memahami dan menjalankan perintah Allah serta menjauhi laranganNya.

Karena “Berilmu sebelum beribadah” merupakan kaidah pokok yang mesti mengkristal dalam diri seorang mukmin yang beriman.

Bagaimana tidak, ketika seorang yang beribadah namun tidak disertai dengan ilmu tentu saja ibadah yang ia lakukan cenderung kepada kekeliruan dan berpotensi besar menyimpang dari ajaran Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam dimana tidak akan diterima suatu amal ibadah jika tidak sesuai dengan petunjuk Nabi.

Mari mendalami ilmu agama dari dasar, mulailah dengan memohon petunjuk kepada Allah kemudian memilih seorang guru yang istiqamah dalam ibadah dan keilmuannya serta tidak melenceng dari petunjuk sunnah Rasulullah.

Prioritaskan ilmu tauhid sebagai pokok perkara yang kita pelajari, fahami dan laksanakan kemudian disusul dengan ilmu syari lainnya. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada kita dalam perjalanan menuju keridhaanNya.

Yogyakarta, 10 Muharram 1441 Hijriyyah

Komentar