Kampus Impian, Nostalgia, dan Refleksi Diri


Beliau adalah Ustadz Syaiful Muhammad Khadafi, alumnus Universitas Islam Madinah, adik kelas saya di pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Beliau sedang berdakwah di salah satu Masjid wilayah Tanah Abang.


Melihat status facebooknya tentang informasi jadwal kajian yang tidak jauh dari tempat kerja, tanpa pikir panjang saya langsung menghadiri.

Di menit ke 3 beliau berceramah, saya berpindah kedepan dari shaf belakang karena masbuq. Saya duduk tepat di hadapannya, mendengarkan dengan khusyuk sembari mencatat rapi poin-poin penting dari ceramah yang ia sampaikan. Ia membawa tema "kiat mengatasi kegalauan" dengan judul "Agar kesedihan, kegalauan, dan kegundahanmu hilang" dengan sangat detail dan gamblang.

"permasalahan merupakan keniscayaan dalam kehidupan, karena tujuan Allah menciptakan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji siapa di antara hamba-hambaNya yang terbaik amalannya". Begitulah kira-kira bagian dari quotenya yang saya catat.

Saya juga mencatat 4 kiat menghilangkan kegelisahan dan kegundahan, yaitu: kembali kepada Allah, solat, doa, dan istighfar. Poin yang saya highlight adalah istighfar. Selalu memohon ampunan kepada Allah di setiap saat.

Sebagaimana kisah seorang yang selalu melazimkan istighfar saat bertemu dengan Imam Abu Hanifah rahimahullah. Ketika itu dengan izin Allah, Imam Abu Hanifah dijamu oleh beliau tanpa tahu itu adalah sosok ulama besar. Sembari memberikan jamuan, tak henti ia mengucapkan istighfar.

Imam Abu Hanifah takjub, kemudian bertanya: "apa yang engkau peroleh sebagai manfaat dari kebiasaanmu berdzikir dengan istighfar ini?"

Orang itu menjawab "Semua doa-doaku telah dikabulkan oleh Allah kecuali 1, yaitu: berjumpa dengan Imam Abu Hanifah"

***

Ceramah pun usai. Mulanya, saya kira Ustadz Syaiful tidak kenal saya, karena 10 tahun lebih tidak pernah berjumpa. Selama di pondok pun, jarak tingkat kelas kami itu 2 tahun. Karenanya, saya tidak banyak berinteraksi dengannya. Tapi, saya mengagumi kiprahnya di dunia dakwah, karyanya, dan caranya menyampaikan dakwah khususnya pasca menjadi seorang alumnus Universitas Islam Madinah.

Namun, ternyata (kata beliau) justru ia sempat gugup dan grogi saat berceramah saat tau saya duduk tepat di depannya. "Serasa ana lagi di pantau bagian keamanan pondok, akhi".

Saya pun tidak kuasa menahan tawa mendengarnya. Setelahnya, kami pun dijamu oleh Ketua DKM Masjid Fatahillah Tanah Abang, yaitu: Ustadz Nashri Assalam. Ternyata, beliau juga alumni Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah. Terasa lengkap lagi, ketika kajian itu juga dihadiri oleh Santri/Mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu Quran yang juga pernah mengenyam pendidikan di Pondok Raudhah, bernama Hafidz.



Kami pun dihidangi makan siang spesial oleh sang senior, makan dengan lahapnya, sembari bercerita nostalgia tentang pondok pesantren tercinta.

***

Kembali mengingat pendidikan tinggi di Timur Tengah. Sejujurnya, itu adalah perguruan tinggi impian saya tatkala di pondok. Saya menulis dalam buku diari waktu itu urutan target perguruan tinggi yang saya inginkan : Universitas Islam Madinah, Universitas Al Azhar Cairo, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dst (saya lupa).

Namun, qadarullah, di tahun saya tamat pondok, belum ada rekrutmen siswa untuk studi di Timur Tengah saat itu. Mungkin karena gejolak politik yang tidak stabil di beberapa negara Timur Tengah khususnya Mesir. Akhirnya, saya mengurungkan niat dan beralih ke salah satu perguruan tinggi yang pada akhirnya mengantarkan saya menjadi abdi negara seperti saat ini (Alhamdulillah ala kulli hal). Alhamdulilah wa syukrulillah, pendidikan master saya pun dapat saya gapai di Universitas Gadjah Mada (Allah telah menjawab doa saya).

Akhirnya, setelah konfil geo-politik di Timur Tengah reda, Alhamdulillah,  adik-adik kelas saya di pondok, mereka memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan disana di berbagai universitas ternama tersebut, termasuklah disana adik sepupu saya Ustadz Afrizal TW, Lc., MA., PhD dan Ustadz Syaiful Muhammad Khadafi,  Lc, serta banyak alumni Raudhah yang mendapatkan kesempatan mulia tersebut.

***

Sebuah cerita kehidupan yang tak perlu disesalkan. Apa lagi, bagi yang memahami hakikat ketentuan dan ketetapan Allah Ta'ala yang menjadi syarat rukun Iman khususnya yang ke 6; beriman kepada takdir yang telah Allah Ta'ala tetapkan.

Beriman tanpa menafikan ikhtiar. Tidak larut dalam penyesalan dari rentetan sejarah kehidupan yang telah dilalui. Semua telah tercatat. Tugas kita, melakukan yang terbaik, totalitas, dan all-out tanpa mengangkangi syariat yang mulia ini.

Lihatlah diri, dengan segala karunia yang telah Allah beri. Akal, organ tubuh, perasaan, ilmu, pengalaman, orang tua, istri, anak, saudara sekandung, dan perbendaharaan dunia yang telah diperoleh.

Fokus terhadap diri untuk senantiasa mengupgrade kualitas keimanan dan ketaqwaan, hindari segala potensi dan benih dosa dalam bentuk apapun, sekecil dan sebesar apapun. Jaga keluarga dari api neraka. Tetapkan prioritas akhirat, sadarilah bahwa Allah adalah tempat kembali.

Semua hanya fasilitas menuju peristirahatan akhir.

Wallahua'lam.







Komentar