Hakikat Asa


Cita-cita itu ibaratkan fatamorgana

Apalagi ketika kau tak punya cukup usia

Jatah telah habis terkikis oleh masa.

Waktu yang dulunya kau lebih prioritaskan untuk bantal atau game atau aktivitas tak guna

Tak guna bagi masa depanmu, bagi asa dan citamu

Kini kau mau jadi apa rasanya terlambat, sepertinya tak ada kesempatan lagi. 

Usia yang telah memasuki kepala lima.

Tinggal menjalani sisa jatah umur yang tinggal se-dekade.

Tapi faham itu tak berlaku untuk seorang hamba yang memiliki iman.

Iman itu sederhana, keyakinan yang mantap kepada pokok yang heksa

Bahkan dia berterimakasih kepada Sang Pencipta. Karena masih dijatah usia untuk usaha.

Usaha menghapus dosa-dosa, dengan amal dan ibadah. 

Maka yang berlalu adalah sejarah yang hanya bisa dikenang tak pun bisa di-ubah. 

Dia, hamba itu, hanya fokus kepada Syurga dan Neraka. 

Setiap waktu selalu bertanya pada dirinya inikah jalan ke Surga atau Neraka. Sekali lagi, karena ia yakin pada pokok yang heksa.



Komentar