Jangan Pernah Lupakan Pulau ini, Nak!

Liburan telah usai, nak. Kita kembali ke perantauan. Mengarungi kehidupan dengan segala pernak perniknya Ibukota.

Kita pergi meninggalkan kampung halaman menyisakan kerinduan baik dari kita maupun dari sanak famili.

'Pulang kampung' telah memberikan pelajaran bagi kita untuk tidak menjadi 'kacang lupa kulitnya'.

'Pulang Kampung' juga mengingatkan kita bahwa kita punya kerabat/sanak famili yang begitu sangat mencintai kita dan kita pun sangat mencintai mereka.

'Pulang Kampung' pun kelak akan menjadikan kalian lebih mengerti tentang asal-usul dari mana Ayah dan Umma berasal.

Ayah lahir di sebuah pulau yang dikelilingi gugusan pulau-pulau kecil di ujung barat pulau Sumatera. Selama pulang kampung ini, Ayah melihat betapa bahagianya kalian merasakan keceriaan mandi di laut yang luas dengan segala keindahan panorama pemandangan ciptaan Allah Yang Maha Kuasa.



Pindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Menikmati riak air laut dan gelombangnya, serta angin sepoi-sepoi yang membelai setiap makhluk yang mengarungi lautan termasuk kita saat menyeberang pulau-pulau indah itu.

Tak terlepas pula dari gelombang ombak dan sedikit badai plus angin yang sempat menyinggahi kita di perjalanan pulang dari Pulau Asok ke Pulau Balai.

Tapi, Alhamdulillah tak sedikit pun tampak kegelisahan dari wajah kalian. Entah itu karena kalian belum paham apa itu badai atau justru itu pertanda bahwa kalian memang orang sini (Pulau) yang seolah telah terbiasa dengan terjangan badai dan gelombang.

Tak lupa, kalian mencicipi masakan khas Pulau ini buah tangan Uci, Nekuncu, dan Nekumak. Gule kimo, lauk sambam, katupek nasi, samba batokok, panggang geleng, gule hiu, dan berbagai masakan khas disini.

Hanya seminggu kita punya waktu disini, tapi bahasa Pulau ini begitu mudahnya mendarah daging yang terbukti dari logat dan gaya bicara yang kalian mulai beradaptasi.



Nak, menjadi apapun kalian nanti, jangan pernah lupakan tempat ini. Sekali lagi, dari sini Ayah berasal. Disini tempat Ayah kecil hingga tumbuh remaja, berbagai kenangan indah, suka dan duka telah Ayah lalui di kampung halaman ini.

Selamanya Ayah adalah perantau selama Ayah tidak berada di Pulau ini. Dan begitupun dengan kalian.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala yang telah memberikan kita rezeki dari ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima (Allahumma Aamiin).

Semoga Allah panjangkan dan berkahi umur kita semua, dapat berkumpul di waktu yang akan datang. Aamiin



Komentar