SALAH SATU INTI RUKUN IMAN KE-6



🖊 Oleh Fauzan Hidayat

Ketahuilah bahwa disetiap hembusan nafas, apa yang terjadi menimpamu berupa cobaan dan ujian yang datang silih berganti serta apapun bentuk pergerakan yang ada di alam semesta ini adalah mutlak telah tercatat dalam taqdir yang Allah telah tetapkan 50 rb tahun sebelum jagad raya ini diciptakan.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda :

“Sesungguhnya yang pertama kali Allah ciptakan adalah qalam, lalu Allah berfirman kepadanya, ‘Tulislah!’. Qalam mengatakan,’Apa yang akan aku tulis?’. Allah berfirman, ‘Tulislah berbagai takdir dari segala sesuatu yang akan terjadi hingga hari kiamat!’”

(HR. Abu Daud (4700) dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit)

Maka ketika nafas itu berhenti baik dari dirimu maupun orang-orang yang kau tidak inginkan perpisahan ruhiyah dengan mereka, hendaklah kau sadari bahwa itu sudah menjadi ketetapan-Nya.

Begitupula sesuatu yang menimpamu dari hal-hal yang kau tidak sukai, yang kau benci dan yang kau berusaha menjauh darinya, akan tetapi apabila itu telah tercatat atasmu maka segeralah meyakini bahwa itu sudah menjadi ketentuan-Nya.

Allah Taala berfirman:

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah"
(QS. Al-Hadid, Ayat 22)

Begitu pula pergerakan yang terjadi di jagad semesta ini, daun-daun yang jatuh, pasir-pasir yang terbentang luas, ikan-ikan kecil di dasar lautan, para malaikat dan ruh yang melintas ke langit bumi; semuanya bergerak mengikuti sunnatullah.

Allah 'Azza wa Jalla berfirman:

"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
(QS. Hud, Ayat 6)

Oleh karenanya, ketika kau dihadapkan dengan apapun itu baik berupa sesuatu yang kau yakini menguntungkanmu maupun yang kau tau sangat merugikanmu, sadarilah semuanya berjalan mengikuti kehendak-Nya.

Namun, perlu kau tau! Berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan apa yang diinginkan -tentunya yang tidak lepas dari tuntunan nash- adalah sesuatu yang kau dianjurkan untuk melakukannya.

Alla Taala pun berfirman :

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri"
(QS. Ar-Ra'd, Ayat 11)

Kau inginkan ilmu, kau pun harus ber-manjadda wa jada. Kau siapkan hati dan fikiranmu, kecerdasanmu, kesungguhanmu, finansialmu, keingintauanmu, mendatangi gurumu dan kerelaanmu menghabiskan waktu dalam lautan ilmu.

Kau inginkan harta, kau juga haru ber-yashil rohimahu, kau pererat ikatan kekeluargaanmu, kau bakti kedua orangtuamu, kau sapa tegur dan bantu adik kakakmu, paman-bibimu, kakek-nenekmu.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :

"Barangsiapa senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim"
(Muttafaq Alaih dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu Anhu)

Tak berhenti disitu, kau pun harus atur strategi bisnismu, kau luangkan waktu dan uangmu, kau nonstopkan doa doamu, kau perkencang kerjakerasmu.

Kau inginkan istri, kaupun harus perbaiki agamamu, perindah akhlakmu, tingkatkan perekonomianmu, asah kesabaranmu.

Kau tak pernah tau apa yang Allah telah tetapkan atasmu, maka jangan pernah kau merasa takdir baik akan menghampirimu sehingga kau pun enggan berusaha beramal semampumu. Jangan pula kau kecewa takdir buruk akan menggerogotimu sehingga kau putus atas akan rahmat Robbmu.

Maka "Tetaplah Beramal" begitu Nabimu mengajarkanmu. Sekali lagi, kau tak akan pernah tau sesuatu yang telah ditetapkan atasmu.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Suraqah bin Malik bin Ju’syum datang dan berkata,

"Wahai Rasulullah, berikanlah penjelasan kepada kami tentang agama kami, seakan-akan kami baru diciptakan sekarang. Untuk apakah kita beramal hari ini? Apakah itu terjadi pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang dengannya pena telah kering dan takdir yang berjalan.”

Ia bertanya, “Lalu apa gunanya beramal?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).” (HR. Muslim, no. 2648)

Jangan pernah bosan perprasangka baik terhadap Tuhanmu. Karena sebagaimana prasangkamu, begitupula Tuhanmu akan memperlakukanmu.

Dari Abu radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]


Yogyakarta, 16 Robiul Awal 1441 H

Komentar