Menyingkap sisi Kemahaadilan Allah dalam Musibah yang bernama "CORONA"


Berada dalam situasi dunia yang sedang "kristis" seperti saat ini kiranya dapat mendorong kita untuk senantiasa menyadari keberadaan Robb yang mengatur segalanya dengan begitu teraturnya secara sempurna.

Hanya orang-orang yang hati dan fikirannya dipersempit oleh dirinya sendiri sebab keengganannya bertaqarrub dengan Sang Khaliq ; menjadikan pandangannya terhadap apa yang saat ini melanda bumi ibarat malam yang gelap gulita tanpa cahaya namun berhiaskan marabahaya.

Corona Virus Desease (Covid) 19 seakan menjadi momok bagi seluruh ummat manusia. Segalanya berubah dan bergerak sesuai dengan kehendakNya. Namun, manusia tetap diberikan pilihan untuk menentukan sikap tentang apa langkah selanjutnya yang harus diambilnya.

Sedikit mengulas tentang fenomena kondisi perekonomian yang melanda bangsa dengan beraneka bentuk permasalahan yang ada diantaranya adalah ketimpangan sosial dalam menghadapi bencana pandemi virus corona. Izinkan saya memulainya dengan syair sederhana :

Corona menyibak makna dan memutus asa
Bermakna bagi mereka yang punya rasa
Akan Dia Yang Maha Perkasa nan penentu segalanya di dunia dan akhiratnya

Putus asa hanya bagi mereka yang juga merasa bahwa mereka hanya satu-satunya manusia yang dilanda bala dan bencana tanpa doa dan asa kepada Sang Maha Bijaksana.

Beraneka corak dan warna manusia dalam menghadapi Corona diantaranya si pegawai dan si swasta

si pegawai pun berkata :
"corona bagiku tak berpengaruh apa-apa, toh upahku tak pun berubah kerja tak kerja dapat gaji jua"

si swasta pun bersuara : "Terbesit di dalam fikiran sembari bertanya, dimanakah letak adilnya Sang Maha Adil dan Maha Bijaksana. Kubekerja dengan upah tak seberapa, setengah matipun tak ada artinya. Si corona telah mengubah semuanya, adakah asa yang lebih baik dari berjumpa saja segera padaNya

Satu sisi, mereka (sebut saja kelompok A) yang bekerja sebagai wiraswasta menengah kebawah seperti nelayan, petani, buruh dan lainnya; apabila dalam satu hari mereka tidak bekerja, maka ancamannya adalah mereka akan kelaparan. Keluarga : anak istri, bahkan orang tua akan tidak terpenuhi nafkahnya. Bahkan bekerja pun jika mereka tidak maksimal, tidak bersungguh-sungguh maka resiko pendapatan sedikit akan mereka hadapi.

Resiko bagi seorang nelayan misalnya, seperti cuaca ekstrim berupa angin kencang dan hujan lebat akan menjadi penghalangnya dalam mencari rezeki.

Begitu pula seorang petani, ancaman hama dan musim kemarau menjadi hal yang mereka takuti karena dapat mempengaruhi hasil produksinya yang tentu akan berimbas pada pendapatannya.

Seorang buruh, dalam kondisi perekonomian dunia saat ini (Baca : Menyebarnya Covid 19 -nasalullahalafiah- ), mobilitas barang dan jasa yang semakin menurun sangat berpengaruh pada pekerjaannya sehingga upah yang diperoleh bisa jauh lebih rendah dari biasanya.

Disisi lain, seorang pegawai baik negeri maupun swasta (sebut saja kelompok B) Ada yang bekerja ataupun tidak, mereka tetap akan mendapatkan upah. Bekerja maksimal ataupun tidak mereka pun tetap memperoleh gaji yang jumlahnya sudah ditentukan (yang pastinya jutaan rupiah). Bahkan oknum dari mereka dalam situasi dunia yang seperti ini juga tetap saja menyalahgunakan wewenang, rekayasa data dan tanggungjawab dengan orientasi keuntungan pribadi dan golongan.

Padahal Allah Taala telah berfirman :

"Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit". [Thaha/20:124].

Maksudnya, dia akan mendapatkan kesengsaraan dan kesusahan. Dalam tafsirnya (3/164), Ibnu Katsir berkata:

“Di dunia, dia tidak akan mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Hatinya gelisah yang diakibatkan kesesatannya. Meskipun dhahirnya nampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang ia kehendaki, bisa mengkonsumsi jenis makanan apa saja yang ia inginkan, dan bisa tinggal dimana saja yang ia kehendaki; selama ia belum sampai kepada keyakinan dan petunjuk, maka hatinya akan senantiasa gelisah, bingung, ragu dan masih terus saja ragu. Inilah bagian dari kehidupan yang sempit”.

Mungkin kelompok A -dengan keterbatasan pengetahuan agamanya- kemudian bergumam "Tuhan tak Adil, saya bekerja keras tapi dengan hasil tak seberapa, sedang mereka betapa mudah mendapatkan uang".

Selaku seorang muslim yang semestinya berusaha memahami agamanya dengan baik tidaklah patut berkata demikian. Karena kezhaliman/ketidakadilan adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah. Karena Allah berfirman dalam hadits qudsi :

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi" (HR. Muslim 6737)

Padahal merupakan suatu keniscayaan bahwa Allah adalah Maha adil/bijaksana, sebagaimana firman-Nya :

"Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana" (QS. At-Tahrim : 2)

Semua yang telah, sedang dan akan terjadi merupakan ketetapan Allah Taala (Baca: Takdir). Adapun ketetapan Allah dapat dirinci menjadi dua bentuk : Syari'yah dan Kauniyyah. Ketetapan syar'iyah adalah syariat yang dibawa oleh para Rasul dan dimuat dalam kitab-kitabNya. Adapun ketetapan kauniyyah merupakan keputusan Allah atas makhlukNya dalam bentuk penciptaan, rezeki kehidupan, kematian dan perkara-perkara lain yang merupakann makna dan tuntutan rububiyah Allah. (Syarah Aqidah Wasitiyyah/183 : Syaikh Shalih Fauzan)

Rezeki berupa upah yang mudah diperoleh oleh kelompok B disini adalah yang menjadi inti permasalahan yang mungkin bagi kelompok A sangat sulit untuk melihat letak keadilan Dia Yang Maha Adil.

Padahal, jika saja dia mau bersyukur dengan keadaan yang ia miliki maka tentu segala pemberian dari Nya akan ditambah pula oleh Nya. Namun sebenarnya, jika saja ia tau kenyataan yang dihadapi oleh mereka kelompok B dengan segala kompleksitas problematika kehidupan yang dihadapi akibat ketidakberkahan hartanya, tentu ia (kelompok A) akan merasa sangat bersyukur. Hanya saja, terkadang Allah belum menampakkan padanya sisi kemahaadilannya dan disitulah Allah bisa saja sedang menguji imannya.

BUKTI NYATA KEADILAN ALLAH

Kembali ke permasalahan kelompok A dan kelompok B di atas. Boleh jadi kelompok B yaitu mereka yang bekerja atau pun tidak, akan tetap mendapatkan upah. Karena saking tidak berkahnya, maka kita katakan bahwa mereka akan merasakan "gaji sejuta rasa seratus ribu".

Mereka akan merasa seakan-akan gaji yang banyak terasa sedikit dan mereka akan selalu menghadapi masa-masa yang sulit. Ada saja hal yang menyebabkan uang mereka harus dihabiskan lantaran sakit, kendaraan rusak, bencana atau yang lainnya sehingga uang yang tidak berkah tadi akan habis tanpa memberikan sisa manfaat sedikitpun bagi mereka.

Sementara kelompok A, dengan nilai pendapatan yang sedikit namun berkah boleh jadi sangat jarang menghadapi kondisi sebagaimana yang dihadapi oleh kelompok B. Meski makanan pokok yang dikonsumsi mungkin tidak sarat gizi, tapi anak dan istrinya selalu dalam keadaan sehat bahkan sampai tidak mengenal rumah sakit ataupun dokter.

Anda ataupun saya mungkin berada di kelompok A. Maka luangkanlah waktumu untuk memikirkan hal ini sejenak. Agar hal-hal yang terbesit di dalam hatimu tentang keraguanmu terhadap kemahaadilan Allah dapat segera sirna, dan agar terbuka jua jalan hidayah dariNya hingga iman mu pun semakin mantap padaNya. Sekali lagi, ketidakadilan ataupun kezaliman adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah sebagaimana hadits qudsi yang telah dipaparkan di atas.

Begitupula ketika saya dan anda berada pada posisi kelompok B. Maka sadarilah dan renungkan apakah perkara-perkara yang disebutkan di atas juga menimpamu?

Di masa-masa kesulitan yang dihadapi dunia saat ini yang berimbas pada kebijakan work from home (WFH). Bekerja di rumah bukanlah alasan untuk tidak mampu menjadi pegawai yang produktif. Sadarilah bahwa kontrak kerja yang anda telah tandatangani, diantaranya berisikan ketentuan bahwa anda harus bekerja hingga 8 jam dalam sehari; sejatinya harus anda tunaikan. Karena disitulah letak seimbangnya antara kewajiban yang anda tunaikan dengan hak yang anda peroleh.

Akan tetapi, jika anda tidak mampu menyeimbangkan hal tersebut. Mungkin karena memang anda tidak tau harus mengerjakan apa, maka mohonlah pertolongan kepada Allah agar anda diberi petunjuk olehNya kiranya anda menjadi hambaNya yang diberkahi. Bisa saja Allah akan menganugerahkan kepada anda keterampilan untuk mengerjakan sesuatu terkait dengan kewajiban anda agar upah mu berkah. Namun, jika anda dengan sengaja meninggalkan kewajiban dalam situasi yang seperti ini, tentu anda sangat rentan dengan resiko sebagaimana yang dihadapi oleh kelompok B.

Semoga Allah memberikan hidayah dan inayahNya kepada kita semua agar menjadi hamba-hambaNya yang diberkahi dalam semua urusan, di setiap hembusan nafas, langkah kaki dan ayunan tangan serta tingkah laku dan tuturkata. Wallahumusta'an

Subulussalam, 16 Sya'ban 1441 H

Fauzan Hidayat

Komentar