(Maaf), GAJI BUTA dalam WFH!

Menjadi pegawai (sebut saja sipil) adalah mimpi sekian banyak pemuda Indonesia. Kesan bahwa menjadi seorang abdi negara akan kehidupan yang santai dan jaminan keberlangsungan pendapatan adalah hal yang sudah menjadi rahasia umum dimana kebanyakan dari mereka yang menginginkan status tersebut menjadikannya sebagai alasan terkuat untuk mendapatkannya.

Padahal, ketika ditimbang dengan mizan syar'i tidaklah semudah itu. Seorang muslim yang baik adalah memahami dan berusaha menguasai apa yang menjadi hak dan kewajiban.

Sungguh, peluang untuk bersantai-santai dengan gaji yang cukup (yang sebenarnya tidak setara dgn pekerjaan) adalah sangat terbuka lebar. Pun sangat mudah diukur dan dibuktikan bahwa banyak dari mereka para pegawai tadi mendapatkan upah melebihi dari kualitas pekerjaan yang mereka lakukan.

Mungkin sebagian dari mereka akan mengomentari argumen ini dgn cemoohan bahwa orang yg berkata demikian adalah "sok alim" / "idealis mati" dan berbagai sindiran lain.

Tapi, sebenarnya kalau saja mereka mau menimbang dengan logika berfikir yang sehat, disadari atau tidak tentu banyak dari mereka (bahkan termasuk saya) telah zhalim terhadap diri sendiri dengan tidak mengimbangi antara hak yang diperoleh dengan kewajiban yang dilaksanakan.

Terlebih dengan situasi bumi yang sedang tidak bersahabat seperti sekarang. Qadarullah, berbagai kebijakan dalam mengantisipasi wabah dilakukan. Salah satunya adalah pola bekerja dari rumah (work from home/WFH).

Kemungkinan (maaf) "makan gaji buta" adalah sesuatu yang sangat rentan terjadi. Ketika mereka tidak menyadari bahwa rumah hanyalah perkara tempat, namun pekerjaaan adalah pekerjaan. Maka, tentu tidak jarang yang menjadikan momen WFH ini sebagai ajang liburan tapi tetap dapat gaji.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada para hamba-hambaNya para pegawai, dan umumnya semua mukallaf agar menjadikan peristiwa wabah yg dewasa ini sedang melanda sebagai pelajaran untuk mengambil hikmah yang bermakna untuk kehidupan yang lebih baik.

Seorang Ulama berkata : "Jika ada manusia yang saat musibah sedang melanda, tapi ia tetap bermaksiat kepada Robb-Nya. Maka kemanakah akalnya?"

Wallahu Mustaan!

Oleh: Fauzan Hidayat

Subulussalam, 6 Sya'ban 1441 H

Komentar