Tidak Percaya Corona ?

Gambar : Menunggu Uji Swab COVID-19

Hidung dan mulut ditusuk dengan benda seperti Cutton bud. Dilakukan oleh profesional dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Kurang lebih itulah prosedur Uji Swab untuk memastikan ada tidaknya Covid-19 di tubuh ini.

Fenomena yang selama ini sering terlihat di tivi-tivi sekarang ada di depan mata. Bahkan saya pun menjadi bagian dari sampelnya untuk di cek apakah saya menyimpan wabah itu -nas'alullah al'afiah- atau tidak. Menunggu untuk tiga hari kedepan yang hasilnya akan dikirimkan dari Banda Aceh.

Ketentuan ini harus saya dan teman-teman saya taati. Kami bekerja sehari-hari dengan pimpinan kami yang saat ini -qadarullah- dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Semoga Allah beri kesembuhan.

Meninggalkan keluarga untuk sementara, demi keselamatan jiwa orang-orang yang dicinta. Kesabaran adalah tameng untuk menghadapi serangan rindu yang bertubi-tubi.

Karantina sudah masuk hari yang ke 3. Jika hasilnya negatif, maka boleh pulang. Jika sebaliknya, maka harus mengikuti petunjuk medis selanjutnya.

****

Saya tidak memaksa anda yang membaca blog saya ini percaya terhadap wujud virus yang mematikan ini.

Saya menghargai pilihan anda untuk menjadi bagian dari penganut teori konspirasi dengan keyakinan bahwa semua ini adalah rekayasa, politisasi dan berbagai stigma negatif akan keberadaan wabah ini.

Tapi satu yang pasti bahwa saat ini kita -khususnya warga Aceh- berada dalam keadaan dan situasi ketika mereka orang-orang DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Jateng, Sulsel, Bali, Sumut dan berbagai wilayah dengan angka konfirmasi positif Covid-19 yang tinggi.

Kala itu, mereka dengan kekhwatiran yang mendalam dan kecemasan yang mencekam karena takut akan keganasan Corona. Adapun kita, tidak merasa terpengaruh sedikitpun. Anjuran untuk menaati protokol kesehatan kita abaikan dan berbagai tuduhan tanpa data kita tujukan kepada penguasa bahwa ini adalah rekayasa.

Jemari yang gatal untuk menuliskan komentar-komentar provokatif hanya untuk memenuhi kepuasan batin terhadap kepalsuan Corona. Meskipun bicara tanpa data, hanya dapat informasi dari topik hangat di jalanan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah darimana asalnya.

Akan tetapi saat ini, tibalah giliran kita yang kedatangan tamu yang tak diundang oleh orang-orang yang sadar dan mengerti, tapi kehadirannya dinanti oleh mereka penganut teori konspirasi dengan ocehan :

"Mana itu Corona || Kita semua ditipu || Politik Anggaran || Ini sengaja dibuat-buat || dll".

***

Hari ini 13/08/20 dari situs Covid-19.go.id menggambarkan bahwa sudah 748 orang yang positif di Aceh  ! Ohya maaf saya lupa bahwa anda tidak percaya ini !

Untuk Aceh Singkil saja lebih dari 15 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 berdasarkan uji swab. Pihak medis terus melakukan tracking dan surveylance untuk mendeteksi dan mengidentifikasi mereka yang secara fisik pernah kontak dengan positif Covid ini. Bisa jadi semakin bertambah, semoga saja tidak. 

***

Melihat komentar warganet dalam menyikapi penularan virus ini cukup beragam. Kadang bisa membuat kita geli, geram dan bahkan tertawa. Apalagi mereka yang berspekulasi (anggapan) bahwa wabah ini adalah nonsense. Karena belum mengerti berbagai istilah medis dalam fase-fase terbaru tentang Covid 19 seperti PDP, ODP, PSBB, OTG dan lainnya.

(Ohya cobalah luangkan waktu untuk mengecek istilahnya disini : https://www.alodokter.com/beragam-istilah-terkait-virus-corona-dan-covid-19)

Khusus istilah OTG (Orang Tanpa Gejala) namun terkonfirmasi positif Covid-19 inilah yang menjadi bahan bullian oleh Orang Awam Corona (OAC) dan Penganut Teori Konsiprasi (PTK).

Karena bullian dan serangan tersebut ditujukan kepada pimpinan saya yang saat ini didiagnosa positif Covid-19.

Oleh karenanya, dalam paragraf berikut ini saya berinisiatif untuk merangkum sepenggal fakta tentang OTG. Bermaksud mengedukasi OAC dan PTK.

• "Satu orang dapat menularkan 100 orang" (Cnnindonesia.com edisi 11/08/20). 

• 30,8% orang yang dites positif tidak menunjukkan gejala (Studi di antara warga Jepang yang dievakuasi dari Wuhan pada Februari 2020)

• Dari 23 orang yang dites positif, hanya 10 yang menunjukkan gejala pada hari diagnosa (studi CDC pasien virus corona di panti jompo, King County, Washington, AS)

• Sebanyak 13% dari 468 kasus positif Covid-19 yang diteliti melibatkan penularan pre-simptomatik/penularan sebelum muncul gejala  (penelitian di China, Februari 2020)

Lebih lengkap tentang fakta OTG dapat diakses disini : 

https://kesehatan.kontan.co.id/news/berapa-lama-pembawa-virus-corona-tanpa-gejala-bisa-menularkan-kepada-orang-lain?page=2


***

Siapa yang dapat menjamin orang yang saat ini dekat dan sering berinteraksi dengan anda bebas dari virus ini ? Atau adakah yang menjamin Anda bebas dari virus setelah tau apa itu OTG?

Bisakah anda bayangkan jika anda misalnya -nas'alullah al'afiah- terkonfirmasi positif dan memang nyata. Sudah berapa manusia yang pernah berinteraksi dengan anda ?

Mulai dari keluarga kecil yang sangat dekat dengan anda (ortu/istri/suami/anak), rekan kerja, penjual beras, pengemudi becak, penjual ikan, dan lainnya.

Maka sejatinya banyak hikmah yang diambil dari si wabah yang bernama Corona ini. Diantaranya adalah :

• Berfikir Sebelum Berbuat

• Pastikan kebenaran info baru disebarkan

• Taati pemimpin

• Senantiasa dekat dengan Rabb

• Jangan Takabbur

• Dll

Saudaraku ! Anda hanya punya dua pilihan dalam kondisi seperti ini : Bertahan dengan kepercayaan teori konspirasi atau bergerak menuju keselamatan dari keganasan corona dengan lebih dekat dengan Tuhan kemudian taat dengan pemimpin (ikuti aturan).

Singkil, 23 Dzulhijjah 1441 H


Fauzan Hidayat

Komentar

  1. Ambo baca setiap tulisan sanak, cukup tajam dan menginspirasi. Semoga kito sadonyo selamat dari bencana wabah corona. Amin Yarabal Alamin.

    BalasHapus
  2. Saya jg meyakini bhwa virus tsb ada, hnya saja saya masih ragu dgn hasil uji lab yg di uji dgn PCR Test. Apakah saudara2 kita yg di vonis positif benar2 terpapar covid-19?
    dari bbrapa tulisan maupun video singkat yg pernah saya lihat alat PCR test tdk bs membedakan virus covid dgn flu biasa, TB maupun virus lainnya..bgtu jg halnya dgn kondisi tubuh pd saat pengambilan sampel jg sangat berpengaruh pd hasil uji lab nanti nya.
    Jadi, pertanyaan saya apakah kita mmg sdah benar2 diserang covid atau hnya dinyatakn terpapar dikarenakan akurasi/diagnosis yg kliru dari sbuah alat..
    Wallahu'alam bissawab..

    BalasHapus

Posting Komentar