Berbuat baik? pada-padai !

 



"Babuek baik pada-padai, babuek jahek sakali jangan".

Pepatah klasik minang yang hampir disetiap untaian nasehat orang tua selalu disampaikan. Kalimat yang sarat makna ini memang sangat ampuh dalam menghadapi pelbagai persoalan di tengah-tengah masyarakat, terlebih dalam hal melayani masyarakat sebagai seorang abdi negara.

Siapakah yang tidak ingin dilayani dengan baik? Tentu jawabannya tak seorang pun. Tapi, siapakah yang bersedia melayani dengan sebaik mungkin? Maka jawabnya adalah ya hanya orang-orang tertentu saja.


Maksud dari pepatah di atas adalah bahwa perbuatan baik adalah perilaku yang terpuji, namun untuk berbuat baik hendaknya kita mengukur sejauhmana kita mampu melakukannya. 

Mungkin ada titik dimana kita dapat melampaui kebaikan itu, tapi tahanlah diri karena akan ada konsekuensi yang kita hadapi setelahnya.

Begitu pula dalam hal berbuat buruk/jahat. "Sakalipun jangan" maksudnya jangan pernah lakukan itu. Terhadap perbuatan buruk, tidak satu pun agama yang menganjurkan dan tak pula ada adat yang menyarankan. 

Maka, bukan berarti ketika kita menahan diri untuk tidak berlebihan dalam berbuat baik serta merta terbuka celah untuk berbuat buruk, tentu saja tidak.

Oleh karenanya, saat mendapatkan amanah sebagai abdi negara yang melayani masyarakat. Kita memang dituntut untuk bekerja dengan maksimal, melayani dengan sepenuh hati dan mempersembahkan kontribusi sebaik-baiknya. 

Akan tetapi, kesemuanya itu tentu dengan batasan yang kita mampu dan sejauh kewenangan yang kita miliki.

Banyak konsekuensi yang kita hadapi ketika kita tidak menahan diri untuk berbuat baik kepada orang lain, diantaranya :

1. Kita akan terus menerus menjadi target suruhan dan tempat mengadu untuk dimintai tolong. Lambat laun, terasa seakan diri dimanfaatkan terlebih ketika sekeliling kita tidak merasakan hal yang sama. Padahal tak ada beda antara kita dengan mereka yang sama-sama memiliki tugas pokok dan fungsi serupa.

2. Kita terlihat lemah dan nama kita akan selalu menjadi "sebutan" ketika mereka membutuhkan pertolongan, meski banyak yang bisa mengatasi pertolongan tersebut. Tapi karena kita yang ringan langkah dan tangan, maka hanya nama kita yang terlintas difikiran mereka.

3. Ketika hanya nama kita yang terlintas saat mereka membutuhkan pertolongan, dan kita terbiasa tidak membiasakan diri membendung. Maka sulit bagi kita untuk menentukan skala prioritas pekerjaan. Di waktu pekerjaan utama kita menumpuk, saat itu pula permintaan tolong itu datang dan kita tidak tega menahan diri, maka tugas utama terabaikan.

Oleh sebab itu, peganglah prinsip dan tentukanlah sikap. Apabila memang kita sedang memiliki tugas utama yang lebih penting di saat ada yang meminta bantuan, sampaikanlah permohonan maaf dan tegaskan bahwa kita tidak dapat melakukan hal tersebut, meskipun kita mampu.

Waktu yang kita miliki bukanlah hanya untuk menyelesaian pekerjaan apalagi yang bukan merupakan kewajiban. Ada keluarga kecil yang menunggu kita pulang, yang senantiasa menanti-nanti waktu luang untuk bercengkrama menikmati kehangatan momen keluarga (family time). 

Tubuhpun butuh waktu untuk bersantai, meregangkan otot-otot yang kelelahan banyak diperas untuk bekerja. Begitu juga bathin, yang senantiasa haus akan siraman rohani dan membutuhkan nasihat-nasihat agama,  pesan-pesan ayah-bunda dan petuah-petuah ulama.

Selamat menikmati pekerjaan !



Oleh : Fauzan Hidayat 

Komentar